Welcome Comments Pictures

Rabu, 28 Maret 2012

PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM INTELIGENSI

Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi sehingga mengakibatkan adanya perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lainnya yaitu :
1.  Pengaruh Faktor Bawaan / Keturunan
Seberapa besar korelasi antara IQ orangtua dan IQ anak? Konsep heritabilitas berusaha memilah pengaruh keturunan dan lingkungan dalam suatu populasi. Heritabilitas (heritability) adalah bagian dari variansi dalam suatu populasi yang dikaitkan dengan faktor genetik. Indeks heritabilitas dihitung dengan menggunakan teknik statistik korelasi. Jadi, indeks heritabilitas tertinggi adalah 1,00, sehingga korelasi 0,70 keatas menunjukkan adanya pengaruh genetika yang kuat. Sebuah komite, yang terdiri dari peneliti-peneliti yang dihimpun American Psychological Association, menyimpulkan bahwa pada tahap remaja akhir, indeks heritabilitas kecerdasan kira-kira 0,75 mengindikasikan adanya pengaruh genetik yang kuat.
Menariknya, para peneliti menemukan bahwa indeks heritabilitas kecerdasan meningkat dari 0,45 pada bayi hingga 0.80 pada masa dewasa. Mengapa pengaruh heritabilitas terhadap kecerdasan meningkat seiring pertambahan usia? Mungkin, ketika kita bertambah dewasa, pengaruh lingkungan dan oranglain atas diri kita semakin berkurang, dan kita lebih mampu memilih lingkungan yang sesuai dengan keunggulan genetik kita. Contohnya, anak-anak atau remaja kadang didorong orangtua mereka untuk memasuki lingkungan yang tidak sesuai dengan warisan genetik mereka (anak ingin menjadi pemusik tetapi di dorong menjadi dokter, misalnya). Ketika dewasa, individu-individu ini memiliki lebih banyak keleluasaan memilih lingkungan karier mereka sendiri.
Arthur Jensen (1969) berpendapat bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan dan bahwa lingkungan hanya berperan minimal dalam mempengaruhi kecerdasan. Jensen meninjau riset tentang kecerdasan, yang kebanyakan melibatkan perbandingan-perbandingan skor tes IQ pada anak kembar identik dan kembar tidak identik. Anak kembar identik memiliki susunan gen yang serupa, jadi jika kecerdasan diturunkan secara genetik, skor IQ dari anak kembar identik haruslah lebih serupa satu sama lain dibandingkan skor IQ dari anak kembar tidak identik.
Studi-studi yang dipelajari Jansen menunjukkan korelasi rata-rata skor tes kecerdasan anak-anak kembar identik sebesar 0,82. Uji korelasi skor tes IQ anak-anak kembar tidak identik menghasilkan korelasi rata-rata 0,50. Jensen juga membandingkan korelasi skor-skor IQ untuk anak-anak kembar identik yang dibesarkan bersama-sama dan yang dibesarkan terpisah. Nilai korelasi untuk anak kembar identik yang dibesarkan bersama-sama adalah 0.89 dan yang dibesarkan terpisah 0,78. Jensen berpendapat bahwa jika faktor-faktor lingkungan lebih penting daripada faktor genetik, maka perbedaannya akan lebih besar.
Tingkat pendidikan orangtua kandung juga menjadi tolak ukur dalam memprediksi skor-skor IQ sang anak ketimbang IQ orangtua angkatnya. Akan tetapi, studi-studi adopsi juga mendokumentaskan pengaruh lingkungan. Perpindahan anak dari keluarga lama ke keluarga baru, yang mengakomodasi lingkungan yang lebih baik, meningkatkan IQ anak sekitar 12 poin. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (± 0,50). Di antara kembar identik korelasi sangat tinggi (± 0,90), sedangkan di antara individu-individu yang tidak bersanak saudara korelasinya rendah sekali (± 0,20). Bukti lain dari adanya pengaruh bawaan adalah hasil-hasil penelitian terhadap anak-anak yang diadopsi. IQ mereka ternyata masih biokorelasi tinggi dengan ayah/ibu yang sesungguhnya bergerak antara (±0,40 sampai ±0,50). Sedang korelasi dengan orangtua angkatnya sangat rendah (± 0,10 sampai ± 0,20). Selanjutnya, studi terhadap kembar yang diasuh secara terpisah juga menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi walaupun mereka tidak pernah saling kenal. Ini menunjukkan bahwa walau lingkungan berpengaruh terhadap taraf kecerdasan seseorang, tetapi banyak hal dalam kecerdasan itu yang tetap tak berpengaruh.
2.  Pengaruh Faktor Lingkungan
Sementara faktor keturunan genetika memberi kontribusi pada IQ, kebanyakan peneliti sepakat bahwa untuk kebanyakan orang, memodifikasi dalam lingkungan dapat mengubah skor IQ seseorang. Memperkaya lingkungan dapat meningkatkan prestasi di sekolah dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan. Walaupun faktor keturunan genetika mungkin selalu mempengaruhi kemampuan intelektual, faktor-faktor lingkungan dan kesempatan juga dapat menimbulkan perbedaan.
Studi-studi telah menemukan korelasi-korelasi signifikan antara status sosiekonomi dan kecerdasan. Cara orangtua berkomunikasi dengan anak, dukungan yang diberikan orangtua, lingkungan dimana keluarga tinggal, dan kualitas sekolah memberikan kontribusi terhadap korelasi-korelasi ini. Pengaruh lingkungan juga ditemukan pada penelitian tentang anak adopsi. Contohnya, menurut salah satu penelitan, anak yang pindah ke dalam keluarga dengan lingkungan yang lebih baik dibandingkan keluarga sebelumnya mengalami peningkatan IQ hingga 12 poin. Dalam penelitian lain, para peneliti pergi ke rumah-rumah dan mengamati bagaimana orangtua dari keluarga berada dan keluarga dengan penghasilan menengah berbicara dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Mereka menemukan bahwa keluarga yang berpenghasilan sedang lebih cenderung untuk berbicara dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka dibandingkan dengan orangtua yang berada. Seberapa sering orangtua berbicara dan berkomunikasi dengan anak pada 3 tahun pertama perkembangan seorang anak ditemukan berkorelasi dengan skor IQ anak dengan tes Stanford-Binet pada usia 3 tahun. Semakin sering orangtua berkomunikasi dan berbicara dengan anak mereka, semakin tinggi IQ anak-anak tersebut.
Sekolah juga mempengaruhi kecerdasan. Pengaruh terbesar telah ditemukan pada anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan formal dalam jangka waktu lama. Anak-anak ini mengalami penurunan kecerdasan. Sebuah studi terhadap anak-anak di Afrika Selatan mengalami penundaan bersekolah selama 4 tahun (karena tidak ada guru) menemukan adanya penurunan IQ sebesar 5 poin pada setiap tahun penundaan.

Walau ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, tetapi ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidaklah dapat terlepas dari otak. Dengan kata lain perkembangan organik otak akan sangat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu, ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa inteligensi bisa berkurang karena tidak adanya bentuk rangsangan tertentu dalam awal-awal kehidupan individu. Skeels dan Skodak menemukan dalam studi longitudinal mereka bahwa anak-anak yang dididik dalam lingkungan yang kaku, kurang perhatian, dan kurang dorongan lalu dipindahkan ke dalam lingkungan yang hangat, penuh perhatian, rasa percaya, dan memberikan dorongan, menunjukkan peningkatan skor yang cukup berarti pada tes kecerdasan. Selain itu, individu-individu yang hidup bersama dalam keluarga mempunyai korelasi kecerdasan yang lebih besar dibanding mereka yang dirawat secara terpisah. Zajonc dalam berbagai penelitian menemukan bahwa anak pertama biasanya memiliki taraf kecerdasan yang lebih tinggi dari adik-adiknya. Olehnya ini dijelaskan karena anak pertama untuk jangka waktu yang cukup lama hanya dikelilingi oleh orang-orang dewasa, suatu lingkungan yang memberinya keuntungan intelektual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar