Welcome Comments Pictures

Jumat, 25 Oktober 2013

Testimoni Proses Belajar hingga UTS Online pada Mata Kuliah Psikologi Belajar

Alhamdullilah... Akhirnya selesai juga UTS mata kuliah Psikologi Belajar. Sebelum saya memberikan testimoni mengenai proses UTS mata kuliah ini, saya ingin memberikan testimoni saya mengenai proses belajar pada mata kuliah Psikologi Belajar dahulu, dimana proses belajar kami sebelum UTS adalah dengan memposting materi sebelum masuk kelas di blog masing-masing, menggunakan metode diskusi di kelas, dan diskusi online. Nah, bagi saya proses belajar yang dilakukan selama ini sangat menarik dan menantang terutama diskusi online karena hal tersebut sebenarnya menyenangkan, hanya saja banyak tantangan yang saya dan kelompok saya hadapi, tapi saat saya dan kelompok saya dapat menyelesaikannya saya merasa sangat lega dan puas atas keberhasilan kami dalam menghadapai tantangan-tantangan tersebut.
Nah, mengenai proses UTS online ini, menurut saya proses UTS mata kuliah Psikologi Belajar ini juga sangat menantang dan menyenangkan bagi saya, dimana proses ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dan ternyata tidak menysusahkan bagi saya karena waktu untuk menyelesaikan ketiga soal tersebut diberikan waktu 3 hati untuk menjawabnya sehingga cukup bagi saya untuk menyelesaikannya. Di satu sisi, proses UTS ini juga merupakan proses belajar bagi saya, dimana pendapat saya ini di dukung pada penyataan yang di buku (Bab 2 Teori Belajar Awal, hlm. 44) yaitu pada bagian asumsi teori behaviorisme menyatakan bahawa perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik) dan proses belajar itu sendiri adalah perubahan behavioral dimana suatu respon terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut. Nah, jika dikaitkan asumsi behaviorisme diatas dengan proses UTS yang sedang saya jalani adalah bahwa proses ini dimulai saat Ibu (dosen) memberikan stimulus pertama (soal no 1) bagi mahasiswa Psikologi Belajar yang kemudian direspon oleh setiap mahasiswa (jawaban no 1), selanjutnya jawaban no 1 menjadi stimulus bagi Ibu (dosen) untuk memberikan soal no 2, begitu selnjutnya sampai soal dan jawaban no 3. Nah, dari proses tersebut akan adalah perubahan behavioral bagi saya dimana saya terus mengikuti stimulus yang Ibu berikan dan saya memberi respon sesuai dengan stimulus tersebut.
Secara keseluruhan, dari proses belajar di kelas Psikologi Belajar hingga proses UTS online ini adalah hal yang sangat menyenangkan dan memberikan pembelajaran baru bagi saya, maka dari itu saya ingin berterima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar yaitu Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd atas pengalaman baru ini dan atas feedback-feedback yang sudah beliau berikan, sehingga saya dapat memperbaiki apa yang kurang dari saya.

Rabu, 23 Oktober 2013

Psikologi Kultural Historis Vygotsky

ASUMSI DASAR
Ada tiga bidang yang membetuk landasan analisis Vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas mental manusia. Bidang itu adalah : (a) Hakikat kecerdasan manusia; (b) dua deret baris perkembangan psikologis yang berbeda, biologis, dan kultural historis; (c) desain metode eksperimental untuk investigasi proses psikologis yang dinamis.
(a) Hakikat Kecerdasan Manusia
Perbedaan hewan/manusia dalam kegiatan mental adalah sebagai berikut :
Pertama, tindakan yang terstruktur tidak selalu merupakan tindakan intelektual. Tindakan monyet yang mengandung tujuan hanya akan bermakna di dalam situasi eksperimen tertentu, tetapi tidak bermakna di luar situasi itu. Sebaliknya, anak dapat mengembangkan ide mengenai alat sebagai pelaksana fungsi dalam berbagai macam konteks.
Kedua, penganut Gestalt mengklaim restrukturisasi mental atas suatu situasi sebagai prinsip belajar universal. Pernyataan ini berarti bahwa “persepsi  anak ayam dan tindakan ahli matematika adalah sama-sama terstruktur”. Jika demikian, maka prinsip struktural “adalah dinamika yang tidak memadai untuk menciptakan fenomena baru yang muncul dalam jalannya suatu perkembangan”.
(b) Deret Perkembangan Biologis dan Kultural-Historis
Analisis perbedaan antara perilaku hewan dan manusia menimbulkan identifikasi dua deret perkembangan psikologis yang berbeda secara kualitatif, yaitu biologi dan kultural-historis, dimana :
                                                            Perkembangan anak
Prinsip biologis           Bertanggung jawab atas perkembangan persepsi, memori sederhana, dan perhatioan involuntaro (perkembangan natural)

Faktor kultural-historis        Bertanggung jawab atas perkembangan fungsi mental yang  komples saat anak menguasai perilakunyasendiri melalui : (a)  belajar tanda dan simbol kultur, dan (b) berinteraksi dengan  orang lain di dalam kultur tersebut.
(c) Metode Eksperimental-Genetik (Developmental)
Untuk menemukan dinamika perkembangan fungsi mental manusia, Vygotsky dan rekannya membuat eksperimen yang disebut metode eksperimental-genetik. Vigotsky dan rekannya memberi anak tugas yang diatas kemampuan alamiah mereka, seperti mengingat daftar kata yang panjang. Objek didekatkan di sebelahnya, seperti gambar. Tugasnya terdiri dari stimuli objek (fokus tugas) dan materi lain (berbagai macam stimuli potensial). Vygotsky menyebut model eksperimenal ini sebagai model stimulasi ganda fungsional, karena perilaku individual diorganisasikan oleh dua perangkat stimuli.
Eksperimen yang dilakukan oleh Vygotsky dan rekannya adalah pada memori dan perhatian. Tujuan dalam eksperimen memori adalah untuk mengingat 15 kata atau angka. Dalam eksperimen mengingat kata, gambar-gambar yang tidak berkaitan diberikan sebagai stimuli bantuan potensial. Eksperimenter membacakan setiap kata keras-keras dan subjeknya memilih gambar. Setelah presentasi kata, eksperimenter mengumpulkan gambar dan mengaturnya. Kemudian, sambil memegang setiap gambar, eksperimenter meminta subjek untuk menyebut kata yang berhubungan dengan gambar itu.
Ekperimen pada perhatian berbentuk permainan anak yang disebut “permainan warna terlarang”. Tujuannya adalah menjawab pertanyaan dar eksperimenter tanpa: (a) menyebut warna yang dilarang, atau (b) menyebut warna lebih dari sekali. Untuk membantu menjawab pertanyaan tentang warna subjek mendapat seperangkat kartu, masing-masing dengan warna berbeda (stimulus kedua). Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah subjek mengarahkan perhatiannya pada kartu atau tidak.
Jadi secara singkat, eksperimen pada memori dan perhatia oleh Vygotsky dapat dilihat di bawah ini :
                                    Memori                             Perhatian
Tugas                    Mengingat daftar kata                    Menahan diri untuk menyebut
                                yang panjang                                  warna terlarang

Stimuli Objek      Daftar 15 kata                                  Pernyataan eksperimenter

Stimuli Lain         30 gambar yang tidak                       Kartu berwarna
                              berkaitan

Subjek              Anak prasekolah – dewasa               Anak prasekolah – dewasa

SUMBER :

Gtedler, Margaret. E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Jumat, 11 Oktober 2013

Perkembangan Kognitif Piaget

   
   A. Asumsi Dasar
Asumsi dasar teori ini adalah konsepsi Piaget tentang hakikat konstruktivis dari kecerdasan dan faktor-faktor esensial dalam perkembangan kognitif.

    a. Pendapat Konstruktivis tentang Kecerdasan
Pengetahuan adalah proses mengetahui melalui interaksi dengan lingkungan, dan kecerdasan adalah sistem terorganisasi yang membentuk struktur yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

    b.  Faktor-Faktor Esensial dalam Perkembangan Kognitif
Ada empat faktor yng diperlukan untuk transformasi perkembangan dari satu bentuk pemikiran ke bentuk yang lain, yaitu lingkungan fisik, kematangan, pengaruh sosial dan penyeimbangan (equilibration).

    B. Proses Kognitif
Anak-anak menggunakan skema dalam memahami dunia mereka, dimana schema (skema) adalah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi.
Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses cara anak menggunakan skema mereka : asimilasi dan akomodasi.
(a). Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Misalnya, anak berumur delapan tahun diberi palu dan paku untuk menggantung sebuah gambar di dinding. Dia belum pernah menggunakan palu, tetapi dengan mengamati cara orang lain menggunakan palu maka dia mengetahui bahwa palu adalah benda yang harus di pegang di bagian gagang bawah, dan diayunkan untuk memukul paku, dan biasanya dipikulkan berkali-kali ke paku tersebut.
(b). Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru. Misalnya, masih berhubungan dengan asimilasi tadi. Palu tersebut kan berat, sehingga dia memegangnya di bagian atas. Dia memukul terlalu keras sehingga pakunya bengkok, dan karenanya dia harus menyesuaikan tekanan pukulannya. Penyesuaian ini mencerminkan kemampuannya untuk mengubah sedikit pemahamannya tentang dunia.

   C.  Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Piaget



Piaget menyakini bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam empat tahapan, yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal.

(a). Tahap Sensorimotor (dari kelahiran – 2 tahun)
Pada tahap ini, bayi menyusun pemahaman dunia dengan mengordinasikan pengalaman indera (sensory) mereka (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan (otot) mereka (menggapai, menyentuh)-oleh karena itu disebut sebagai sensorimotor.
Pencapaian kognitif yang penting di usia bayi adalah object permanance, yaitu pemahaman bahwa objek dan kejadian terus eksis bahkan ketika objek dan kejadian itu tidak dapat dilihat, didengar, atau disentuh. Menjelang akhir priode sensorimotor, anak bisa membedakan antara dan dirinya dunia di sekitarnya dan menyadari bahwa objek tetap ada dari waktu ke waktu.

(b). Tahap Pra-operasional (usia 2 – 7 tahun)
Pada tahap ini, anak lebih egosentris dan intuitif. Pemikiran pra-operasional di bagi menjadi 2 subtahap : fungsi simbolis dan pemikiran intuitif.
a.   Subtahap fungsi simbolis (usia 2 – 4 tahun).
Pada tahap ini, penggunaan bahasa mulai berkembang dan kemunculan sikap bermain adalah contoh lain dari peningkatan pemikiran simbolis. Anak kecil mulai mencoret-coret gambar orang, rumah, mobil, awan, dan benda lainnya. pemikiran pra-operasional masih mengandung dua keterbatasan : egosentris dan animisme. Egosentris adalah ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif sendiri dengan perspektif orang lain. Contoh :
      Ayah  : Mary, ibu ada di rumah?
    Mary  : (diam tetapi menganggukan kepala)
      Ayah  : Mary, apa ayah bisa bicara dengan ibu?
      Mary  : (mengangguk lagi tetapi tetap diam)
Jawaban Mary bersifat egosentris karena dia tidak mempertimbangkan perspektif ayahnya; dia tidak menyadari bahwa ayahnya tidak dapat melihat dirinya menganggukkan kepalanya.
Animisme adalah kepercayaan bahwa objek tak bernyawa punya kualitas “kehidupan” dan bisa bergerak. Contoh : “pohon itu mendorong daun dan membuatnya gugur” atau “ trotoar itu mmebuat ku terjatuh”.
b.  Subtahap pemikiran intuitif (usia 4 – 7 tahun).
Disebut tahap pemikiran intuitif karena mereka mengatakan bahwa mereka tahu sesuatu tetapi mereka mengetahui tanpa menggunakan pemikiran rasional. Tahap pra-oprasional ini menunjukkan karaktersitik pemikiran yang disebut centration yaitu pemokusan (pemusatan) perhatian pada satu karakteristik dengan mengabaikan karaktersitik lainnya. centration tampak jelas dalam kurangnya conservation  dari anak, yaitu ide bahwa beberapa karaktersitik dari objek itu tetap sama meski objek itu berubah penampilannya. Contoh : orang dewasa tahu bahwa volume air akan tetap sama meski dia dimasukkan ke dalam wadah yang bentuknya berlainan. Tetapi, bagi anak kecil tidak demikian. Menurut Piaget, anak pada tahap pra-operasional  juga tidak bisa melakukan apa yang disebut operation (operasi) yaitu representasi mental yang dapat di balik (reversible). Contoh : seorang anak kecil mungkin tahu bahwa 4 + 2 = 6, tetapi tidka tahu kebalikannya, yaitu 6 – 2 = 4 adalah benar.

            (c). Tahap Operasional Konkret (usia 7 – 11 tahun)
Pemikiran operasional konkret mencakup penggunaan operasi. Penalaran logika matematika menggantikan penalaran intuitif, tetapi hanya dalam situasi konkret. Pada tahap ini, anak secara mental bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka lakukan secara fisik, dan mereka dapat membalikkan operasi konkret ini. Misalnya, ada dua lempung berbentuk bola dengan ukuran sama. Kemudian bola lempung tersebut duabh menjadi bentuk panjang dan ramping. Anak itu ditanya lempung mana yang lebih banyak, yang berbentuk bola atau yang panjang. Jika anak itu berusia 7 atau 8 tahun, besar kemungkinan mereka akan menjawab bahwa jumlah lempung dlaam kedua bentuk tersebut adalah sama.
Tahap ini juga ditandai dengan seriation yaitu operasi konkret yang melibatkan stimulus pengurutan di sepanjang dimensi kuantitatif (seperti panjang). Contoh : seoprang guru meletakkan delapan batang lidi dengan panjang yang berbeda-beda secara acak di atas meja. Guru kemudian meminta murid untuk mengurutkan batang itu berdasarkan panjangnya. Pemikir operasional konkret dapat secara bersamaan memahami bahwa setiap batang harus lebih panjang dari batang sebelumnya atau batang sesudahnya harus lebih pendek dari sebelumnya.
Aspek lain dari penalaran tentang hubungan antar kelas adalah transivity yaitu kemampuan untuk mengombinasikan hubungan sceara logis untuk memahami kesimpulan tertentu. Misalnya, dalam kasus batang lidi tadi, tiga batang (A, B, dan C) berbeda panjangnya. A adalah yang paling panjang, B panjangnya menengah, dan C adalah yang paling pendek. Si anak memahami bahwa jika A>b, dan B>C, maka A>C ? menurut Piaget, pemikir konkret operasional bisa memahaminya.

(d). Tahap Operasional Formal (usia 7 – 15 tahun)
Pada tahap ini, individu sudah mulai memikirkan pengalaman di luar pengalaman konkret, dan memikirkannya secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Pemikir operasional konkret perlu melihat elemen konkret A, B, dan C untuk menarik kesimpulan logis bahwa jika A = B dan B = C, maka A = C. Sebaliknya, pemikir operasional formal dapat memecahkan persoalan ini walau problem ini hanya disajikan secara verbal.
Selain memiliki kemampuan abstraksi, pemikir operasional formal juga punya kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Pemikir idealis ini bisa menjadi fantasi atau khayalan. Banyak remaja tak sabar terhadap cita-cita mereka sendiri. Mereka juga tidak sabar menghadapi problem untuk mewujudkan cita-citanya itu. Egosentrisme juga muncul dalam masa remaja. Egosentrisme masa remaja (adolescent egocentrism) adalah kesadaran diri yang tinggi yang tercermin dalam keyakinan remaja bahwa orang lain tertarik pada dirinya sebagaimana dia tertarik pada dirinya sendiri. Egosentrisme remaja juga mencakup perasaan bahwa dirinya adalah unik atau berbeda dari orang lain. Contoh : “semua orang disini melihatku karena rambutku ini tak bisa diatur”, lalu dia lari ke ruang rias untuk menyemprotnya dengan hairspray.

Sumber :

Gtedler, Margaret. E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Kamis, 10 Oktober 2013

BAB 11 - Kognitif dan Motivasi Akademik


   A. Asumsi Dasar
   a. Motivasi seseorang berkembang melalui interaksi kompleks dari faktor lingkungan dengan faktor di dalam diri anak.
      b. Pemelajar adalah pemproses informasi yang aktif.
      c. Motif, kebutuhan, atau tujuan pemelajar merupakan informasi eksplisit.

B.  Komponen Proses Motivasional
Tiga pendekatan motivasi yang berkaitan dengan prestasi adalah : (a) model ekspektasi nilai; (b) model orientasi tujuan; (c) teori atribusi.

a. Model Ekspektasi Nilai
Model ekspektasi nilai ini adalah perluasan dari model Atkinson (1958), yang mendefinisikan ekspektasi dan nilai sebagai konstrak motivasional. Berbeda dengan model Atkinson, versi ini memandang ekspektasi dan nilai sebagai kognitif ketimbang motivasional. Dimana ekspektasi dan nilai tersebut berpengaruh langsung terhadap perilaku yang terkait prestasi. Misalnya nilai pencapaian mengacu pada pentingnya melakukan yang terbaik dalam bidang atau pelajaran tertentu.
Premis dasar dari model ini adalah ekspektasi kesuksesan siswa dan nilai yang mereka berikan pada kesuksesan merupakan determinan penting dari motivasi untuk melakukan perilaku yang terkait prestasi.
Dengan kata lain, dua keyakinan motivasional adalah nilai tugas (pencapaian, instrinsik, niali, kemanfaatan, dan biaya), dan nilai ekspektasi (sejauh mana siswa percaya bahwa dia akan mampu melakukan sesuatu dengan baik). Keyakinan ini berpengaruh langsung pada pilihan, kegigihan, tingkat upaya, dan kinerja aktual.

b.  Model Berorientasi Tujuan
Model berorinetasi tujuan membahas alasan siswa untuk melakukan tugas akademik. Misalnya tujuan siswa di pelajaran biologi adalah untuk mendapatkan nilai A. Model orientasi tujuan mendefinisikan secara kontras dikotomis yaitu orientasi tujuan belajar dan orientasi tujuan kinerja.
Siswa dengan orientasi belajar akan berusaha untuk menguasai tugas baru, membuat kemajuan dalam keterampilan belajar yang baru, atau merasa senang saat mereka terlibat dalam tugas yang menantang. Sebaliknya, siswa dengan orientasi kinerja atau yang melibatkan ego akan fokus pada upaya menunjukkan keunggulan kinerja dengan melampaui kinerja oranglain atau melakukan tugas dengan baik tanpa banyak usaha. Kedua model orientasi tujuan tersebut, definisi masing-masing tujuan dapat dilihat secara singkat pada bagan berikut ini :






           c. Teori Atribusi
Teori atribusi membahas pemikira, emosi dan ekspektasi seseorang setelah muncul hasil yang terkait dengan pencapaian. Teori ini mendeksprisikan :
(a). Proses yang terlibat dalam menentukan sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan (atribusi), dan
(b) emosi dan ekspektasi yang mempengaruhi perilaku selanjutnya.
Misalnya, pemelajar mungkin mengatribusikan kegagalan ujian matematika pada kurangnya kemampuan, yang menyebabkan emosi negatif. Karena kurangnya kemampuan adalah atribusi internal yang stabil (tidak mungkin berubah), maka siswa akan memperkirakan kegagalan di ujian matematika di masa sekarang.

Sumber :
Gtedler, Margaret. E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Senin, 07 Oktober 2013

HASIL DISKUSI PSIKOLOGI BELAJAR

Kelompok 5 :

Berikut ini adalah hasil diskusi kelompok mengenai analisa permasalahan yang ada di kelas psikologi belajar berdasarkan PBL.

   A. Identifikasi Masalah
Menurut kelompok , masalah mengenai ketidaaktifan mahasiswa di kelas psikologi belajar dikarena beberapa hal, yakni :
    1.  Ketidakpercayaan pada pendapat sendiri, merasa bahwa orang lain memiliki pendapat yang lebih baik sehingga tidak mau mengemukakan pendapatnya.
   2. Tidak menguasai materi pelajaran sehingga bingung untuk memberikan pendapat.
   3. Takut pendapatnya salah ataupun tidak sesuai dengan yang diminta oleh dosen pengampu.

      B. Analisa Masalah
Menurut kelompok, adanya proses belajar yang salah merupakan salah satu penjelasannya. Maksudnya di sini, mahasiswa salah menginterpretasi lingkungan. Dalam masalah ini, lingkungannya adalah proses belajar di kelas yang membutuhkan keaktifan mahasiswa tanpa melihat benar atau salah pendapat yang diberikan tetapi mahasiswa menginterpretasikan bahwa pendapat mereka haruslah benar dan sesuai sehingga proses belajar yang salah terjadi dalam keadaan ini. 
Mengenai penguatan dari dosen pengampu, menurut kelompok, dosen pengampu sudah sangat memberikan penguatan yang berupa aprsesiasi tinggi mengenai pendapat-pendapat yang dikemukakan mahasiswa. Menurut kelompok, ini adalah bentuk penguatan yang sesuai dengan mahasiswa bukan lagi penguatan dalam bentuk nilai saja yang diharapkan. Maka dari itu, dengan apresiasi yang tinggi dari dosen pengampu seharusnya meningkatkan motivasi mahasiswa dalam mengemukakan pendapat.
Kemudian , kelompok melihat hal ini juga dipengaruhi tipe kepribadian individu sehingga malu untuk mengemukakan pendapat.
Dari sisi teori gestalt, kelompok juga berpendapat bahwa mahasiswa cenderung terlalu memikirkan yang hal-hal spesifiknya misalnya mahasiswa berfikir bahwa pendapatnya tidak baik dan merasa tidak terlalu memberikan kontribusi pada kelas, seharusnya mahasiswa lebih berfikir secara keseluruhan bahwa proses belajar yg aktif memberikan banyak manfaat ke diri sendiri. 
Selain itu, berdasarkan teori bab 3 mengenai otak manusia bahwa otak manusia terdiri dari beribu-ribu saraf untuk memproses informasi, saraf akan menerima stimulus yang kemudian disampaikan kepada otak,setelah diproses di otak maka output yang keluar berupa tindakan yang sesuai dan tepat dengan kondisi yang diminta. Dalam proses penerimaan stimulus oleh saraf juga dipengaruhi oleh faktor keadaan emosi dan motivasi dari individu. Oleh karena itu, kelompok menganalisa bahwa diperlukan motivasi yang tinggi dalam melakukan proses kognitif dalam hal ini adalah menerima instruksi untuk mengemukakan pendapat di depan kelas sehingga perilaku atau tindakan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi yang diminta yaitu menjadi aktif di dalam kelas.

    C. Solusi
Menurut kelompok solusi yang dapat dilakukan adalah :
     1. Berdasarkan teori behavior, adanya peran penguatan cukup efektif dalam proses belajar dalam hal ini bisa berupa bentuk nilai ataupun apresiasi. Namun menurut kelompok, ini masih sistem belajar paedagogi dimana adanya ketergantungan terhadap imbalan. Seharusnya mahasiswa sudah menerapkan sistem belajar andaragogi. Maka dari itu, kelompok mengusulkan untuk belajar dalam bentuk diskusi kelompok.
     2. Mahasiswa mengubah pola pikir mereka yang sesuai dengan prisip gestalt yaitu lebih memikirkan secara keseluruhan bahwa belajar aktif memberikan keuntungan yang besar bagi diri sendiri serta meningkatkan motivasi diri.